IHSG Anjlok Terdalam Sejak Krisis 1998, Jual Saham atau Bertahan?
Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11 pada Jumat pekan lalu, mencatat penurunan harian terdalam sejak krisis 1998. Pada hari ini, IHSG kembali dibuka di zona merah dan tinggalkan level 5.000.
Kejatuhan ini dipicu kekhawatiran investor setelah penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Di tengah tekanan tersebut, investor perlu mencermati arus dana asing, perkembangan reformasi pasar modal, dan level teknikal IHSG sebelum menentukan strategi investasi.
Sepanjang pekan lalu, IHSG terkoreksi 14,91 persen atau 908,65 poin dari posisi 6.093,76 menjadi 5.185,11. Tekanan memuncak pada Jumat ketika indeks dibuka melemah 8,01 persen. Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen global dan domestik. Selain pengumuman MSCI, pasar juga menghadapi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak dunia, dan arus keluar modal asing.
Pada Jumat, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell Rp 2,92 triliun pada sesi pertama. Secara mingguan, net sell asing mencapai Rp 3,34 triliun, sedangkan secara tahun berjalan mencapai Rp 88,19 triliun.
Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih cermat dalam mengambil keputusan. "Penurunan tajam memang membuka peluang pemulihan teknikal, tetapi belum menjamin IHSG telah mencapai titik terendah," jelas dia dikutip Senin (19/10/2026).
IHSG Ambruk, Investor Perlu Waspadai Tekanan Lanjutan
Tekanan pasar saham Indonesia terjadi setelah MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan konsistensi reformasi pasar modal.
MSCI membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Menurut proyeksi Ardy, jika reklasifikasi benar-benar terjadi, potensi arus keluar dana asing dapat mencapai Rp 105 triliun hingga Rp 132 triliun atau US$ 5,8 miliar hingga US$ 7,3 miliar. Saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII disebut paling rentan terdampak.
Selain sentimen domestik, tekanan eksternal juga membayangi pasar. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat kekhawatiran suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Sementara itu, harga minyak Brent sempat menyentuh US$ 110 per barel di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan inflasi dan pelemahan rupiah, meskipun dapat memberikan sentimen positif bagi sebagian emiten energi.
Ardy menilai penurunan IHSG yang dalam membuka peluang technical rebound. Namun, arah selanjutnya akan bergantung pada arus dana asing, respons otoritas terhadap persoalan MSCI, serta stabilitas harga minyak.
Strategi Investasi di Tengah Gejolak IHSG
Dalam situasi pasar yang bergejolak, investor perlu memperhatikan profil risiko, tujuan investasi, dan kebutuhan likuiditas sebelum mengambil keputusan. Penurunan harga saham tidak otomatis menjadi sinyal untuk membeli, sebagaimana pelemahan tajam juga tidak selalu berarti seluruh saham harus dijual.
IPOT memetakan tiga skenario pergerakan IHSG yang dapat menjadi acuan untuk mencermati kondisi pasar.
1. Skenario moderat: menunggu konfirmasi pemulihan
Dalam skenario moderat, IHSG diperkirakan berkonsolidasi untuk membentuk dasar di kisaran 5.180-5.450. Investor dapat mencermati kestabilan indeks dan menunggu konfirmasi pola candle bullish dengan volume perdagangan yang memadai.
Pendekatan ini menekankan pentingnya konfirmasi pergerakan harga, bukan sekadar membeli saham karena harganya sudah turun tajam.
2. Skenario optimistis: mencermati peluang rebound
IHSG berpeluang bergerak menuju 5.600 apabila BEI berhasil memberikan klarifikasi kepada MSCI, reformasi pasar modal berlanjut, dan harga minyak stabil. Jika sentimen membaik, indeks juga berpotensi bergerak untuk menutup sebagian celah penurunan harga atau gap sebelumnya.
Namun, peluang pemulihan tetap bergantung pada perkembangan sentimen dan aliran modal.
3. Skenario pesimistis: mengutamakan pengelolaan risiko
Jika arus keluar modal asing meningkat dan eskalasi di Selat Hormuz mendorong rupiah melewati Rp 18.100 per dolar AS, IHSG berisiko turun menuju 4.950-5.000.
Dalam kondisi ini, investor perlu mempertimbangkan kembali besarnya eksposur terhadap saham berisiko dan menjaga likuiditas sesuai kebutuhan masing-masing.


Comments